Tragedi tenggelamnya sebuah kapal yang
bernama "Titanic", seolah-oleh telah diramalkan dalam sebuah novel yang
terbit 14 tahun sebelumnya. Bahkan, banyak persamaannya, ntah itu hanya
kebetulan belaka, yang jelas hal ini mengandung sebuah misteri di
dalamnya.
"The Wreck of The Titan", sebuah
judul novel karya Morgan Robertson, yang menceritakan malapetaka
tenggelamnya sebuah kapal raksasa bernama "Titan". Lalu bagaimana
kemiripan kapal Titan dalam karya fiksi tersebut dengan Titanic? Dan
bagaimana pula karya tersebut bisa dibilang merupakan ramalan
tenggelamnya Titanic?

Pertanyaan demi pertanyaan tak
kunjung habisnya. Pastinya, dalam novel tersebut terdapat sejumlah
kemiripan antara kapal yang bernama Titan dengan Titanic, antara lain
spefikasi kapal yang nyaris mirip, yaitu sbb :
* Jumlah baling-baling ada 3 pada Titan, demikian pula dengan Titanic
* Panjang kapal Titan yaitu 800 kaki, sedangkan Titanic 882 kaki
* Jumlah penumpang sebanyak 2500 pada Titan, Titanic 2224 penumpang
* Bagian kapal yang rusak ketika mengalami kecelakaan adalah sama-sama bagian kanan depan
* Saat terjadinya malapetaka, sama-sama terjadi di bulan April. Tepatnya, Titanic tenggelam pada tanggal 14 April 1912.
Tidak hanya itu saja, sebenarnya
nama kapal pun hanya beda tipis saja, tinggal ditambah dua huruf "i
& c" pada akhiran kapal dalam karya fiksi Robertson, Titan, maka
jadilah Titanic.
Namun, dari sejumlah kesamaan
tersebut, terdapat pula beberapa perbedaan. Titan, dalam novel tersebut
tenggelam ketika kembali dari New York, setelah berkunjung 3 kali.
Sedangkan, Titanic tenggelam pada saat pelayaran perdananya menuju ke
New York.

Novel karya Morgan Robertson
tersebut terbit pada tahun 1898, sedangkan Titanic tenggelam 14 tahun
kemudian di tahun 1912. Pada saat Robertson menulis novelnya, belum ada
teknologi yang dapat membuat kapal sebesar Titan, dan hal ini sudah
barang tentu merupakan hasil imajinasinya.
Robertson pun menggambarkan
kesombongan manusia yang menyebut kapal tersebut tidak dapat tenggelam,
hingga Titan hanya menyediakan 24 sekoci penyelamat untuk 2500
penumpangnya. Hal yang sama juga terjadi pada Titanic, begitu yakinnya
Titanic tak dapat tenggelam, hingga pemilik kapal hanya menyediakan 20
sekoci penyelamat untuk 2224 penumpang, atau hanya separuh dari jumlah
sekoci yang dibutuhkan.

Adakah dari calon penumpang
Titanic yang sebelumnya pernah membaca novel tersebut, lalu berpikir
bahwa novel tersebut merupakan sebuah pertanda yang tidak baik? Lalu
kemudian membatalkan perjalanannya di menit-menit terakhir? Bisa jadi
ada, mungkin juga tidak.
Apakah novel Morgan Robertson
ini merupakan sebuah ramalan? Atau hanya kebetulan belaka? Penilaian
tidak akan ada habis tentunya. Sebuah misteri yang tak pernah terungkap,
dapat dipetik untuk menjadi pelajaran yang sangat berharga.
Sumber: http://siradel.blogspot.com/2011/03/kemiripan-sebuah-novel-atas-tragedi.html
Jangan Lupa Di Like Dan Di Follow Ya Gan
Post a Comment